01 November 2012

Jemput Kulit Cantikmu Bersama Citra Night Whitening

Suatu saat terbersit di benak saya, betapa Tuhan menciptakan setiap perempuan begitu indah dengan kecantikannya masing-masing. Ada yang terlihat begitu anggun dengan kulit putih dan rambut panjangnya, ada juga yang terlihat sexy dengan kulit gelap juga rambutnya yang bergelombang. Pun, setiap dari mereka pasti memiliki cara yang berbeda-beda untuk merawat kecantikannya. Ada yang lebih memilih memakai lipbalm dari pada lipstik, ada juga yang lebih cocok menggunakan bedak dari pada cream. Dan pernahkah terbersit di pikiran kamu, bahwa ada satu hal yang membuat mereka selalu sama dalam hal merawat kecantikan yang mereka miliki? Selain sabun mandi dan shampo tentu saja. Ya, benar sekali, body lotion. Hampir setiap perempuan menggunakan body lotion (jenis apapun) untuk melindungi kulit dari sengatan matahari sekaligus menjaga kelembabannya sepanjang hari. Begitu bukan?

pict.source: weheartit.com

Kenapa Body Lotion?
Share:

27 August 2012

Pertanyaan Polos dan Menggemaskan

"Mbak, aku pengen jadi burung. Gimana caranya ya? Kan enak, bisa terbang kemana-mana tapi nggak kesasar."
...

Weekend kemarin, sepupu kecil nginep di rumah saya. Namanya Kevin. Kalau ditanya kelas berapa, dia akan jawab "TK nol becal" dengan suara yang lembut. Sepanjang hari saya menemani dia main game, nyiapin makan, dan mandiin dia. Berasa praktek langsung jadi ibu. Capek tapi seru :)
Sama seperti anak-anak lain, di usianya yang ke 6 ini Kevin sangat aktif bertanya. Selalu ingin tahu pada semua hal yang dia lihat. Kenapa begini, kenapa begitu, bagaimana rasanya ini, bagaimana rasanya itu. Bikin muter otak juga jadinya, dan itu adalah bagian yang paling seru. Bagaimana ngasih jawaban dengan bahasa sederhana yang dia bisa ngerti, tapi jawabannya juga bener, nggak terlalu menghayal dan juga nggak mempengaruhi dia ke hal-hal yang jelek. Dan gemesnya, semakin dijelaskan Kevin akan semakin menjadi-jadi, ngasih pertanyaan lagi dan lagi.
Ada beberapa pertanyaan lucu yang terekam di otak saya. Kalau ingat itu lagi saya ingin tertawa rasanya.
 
Kevin : "Mbak, gimana sih rasanya kesetrum? aku kok pengen nyobain ya."
Saya syok dia tanya itu dan bilang pengen nyoba :\
Saya   : "Kesetrum itu sakit dan bahaya. Bukan buat dicoba. Ada orang kesetrum sampai meninggal."
Kevin : "Rasa sakitnya kesetrum itu gimana? Perih?"
Saya   : "Itu sepeti bergetar, panas, dan terbakar. Pokoknya kesetrum itu bahaya, nggak boleh dicobain sama kevin dan semua orang."

Akhirnya saya mengeluarkan jurus kata "pokoknya", tanda menyerah. Tapi setelah itu dia masih melanjutkan pertanyaannya lagi, tentang gaimana rasanya kalau terbakar dan seterusnya, yang akan panjang kalau semua di tulis di sini :D

"Mbak aku boleh nggak buang teh ini kalau nggak habis?"
Mungkin kevin pernah dengar kalau membuang makanan itu nggak baik

"Mbak, kalau laptop dijatuhin itu bisa rusak kan ya?"
Tampaknya dia belum paham kalau hampir semua barang yang jatuh itu bisa rusak :D

"Facebook nggak boleh buat anak-anak ya? Kalau gitu setahun lagi, pas aku udah SD, aku mau bikin"
Mungkin dia pikir SD itu bukan anak-anak lagi. Gemes XD

Ini lucu lagi. Saat saya membujuk dia untuk makan.
Saya   : "Ayok makan, kalau nggak makan tar kurus loh"
Kevin : "Nggak pa pa, kan aku pengen kurus kayak mbak Nita"
Grubrak. Sepertinya saya salah ngasih rasional :D

Dan pertanyaan yang paling saya sukai adalah pertanyaan yang saya tulis di awal postingan ini. Tentang dia yang ingin jadi burung. Terdengar dalam sekali buat saya. Walaupun mungkin Kevin nggak ngerti itu. Pertanyaan itu keluar saat dia melihat sepasang merpati di sebuah tempat pencucian mobil. Sambil nunggu mobil dicuci, dia mengamati tingkah sepasang merpati itu.
Saya   : "Manusia nggak bisa jadi burung, tapi manusia bisa terbang kalau dia mau"
Kevin : "Caranya gimana, Mbak?"
Saya   : "Caranya, kamu harus belajar yang rajin sampai pinter. Cuma orang pinter yang bisa bikin pesawat terbang. Kalau kamu bisa bikin pesawat terbang, kamu bisa terbang kemana saja kamu mau."
Kevin bengong, lalu tersenyum dan berteriak, "Yeeey.. Terbang...!!!"
Share:

21 August 2012

Idul Fitri, Belajar Memaafkan Diri Sendiri

Sedikit sulit untuk saya memaknai Idul Fitri tahun ini.
Bingung dengan apa saja yang sudah saya dapat selama Ramadhannya, atau mungkin selama satu tahun setelah Idul Fitri tahun kemarin berlalu.
Satu tahun ini terlalui dengan cukup berat, banyak hal nggak terduga -yang tentunya nggak saya harapkan- terjadi. Dan karena itu boleh dibilang saya cukup linglung melewati Ramadhan sebulan kemarin.
Semalam saya berfikir, apa yang harus saya lakukan sesaat setelah takbir kemenangan bergema, selain bermaaf-maafan tentunya.
Dan jawabannya, mungkin saya harus belajar untuk memaafkan diri saya sendiri. Selama ini dengan tidak sadar saya telah menyakiti diri sendiri tanpa belas kasih.
Gimana bisa? Untuk kesalahan yang kayak apa saya menyebut itu menyakiti diri sendiri?
Untuk penyiksaan diri dari kesedihan yang tidak perlu. Untuk rasa cinta berlebihan yang membuat kita memberikan harga yang terlalu murah pada diri sendiri. Untuk senyum angkuh yang membuat orang di sekitar kita menjauh. Untuk umur tanpa arti. Untuk itu semua saya menyebutnya menyakiti diri sendiri.
PR besar, karena saya adalah wanita berperasaan menonjol, lebih dari logika. Dan kegagalan saya dalam menjalin hubungan dengan seorang laki-laki beberapa bulan lalu berhasil menampar saya keras. Bahwa sebenarnya saya sedang tidak disakiti siapa-siapa selain diri saya sendiri.
Memaafkan lahir dan batin. Lahiriah dan batiniah. Yang terucap maupun yang terpendam.
Dan siapa lagi yang berpotensi cukup besar menyakiti lahiriah -sebut jasmani- kita selain diri sendiri? Air mata yang bikin stress sampai migrain dan males makan akhirnya kurus kerontang :D Mungkin nggak segitunya juga.
Ah, memang sepertinya harus belajar memaafkan diri sendiri. Dengan memaafkan tentu secara nggak langsung kita sadar ada sesuatu yang salah dan harus dimaafkan. Dan dengan begitu kita tahu ada jalan yang lebih baik, menghargai diri sendiri.
Bagaimana dengan kamu?

Dan kesahalan saya pada orang lain di sekitar saya tidak lebih kecil pastinya.
Saya, dari lubuk hati saya, memohon maaf atas kesalahan lahir dan batin saya.
Karena tanpa maaf, tubuh ini hanyalah seonggok daging yang makin lama makin berjamur karena tak pernah di'air'i.
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1433 H. 
Semoga Allah memperkenankan kita bertemu dengan Idul Fitri tahun depan dengan kondisi -jiwa dan raga- yang lebih baik. 
Amin amin amin
Share:

17 August 2012

Selamat Ulang Tahun Indonesia

Selamat ulang tahun Indonesia.
Sepanjang hari ini, hampir semua orang di negara ini mengucapkan kata itu. Nggak sedikit yang memberi hormat, bahkan mengepalkan tangan sembari berteriak "merdeka" dengan lantang. Status-status di facebook, twitter, dan blackberry messenger juga nggak mau kalah mencuri perhatian.
Saya selalu terharu pada bagian itu. Nggak peduli itu benar dari hati mereka atau hanya sekedar ikut-ikutan biar keren. Saya selalu terharu melihat upacara kemerdekaan baik langsung ataupun cuma di televisi, terharu melihat orang-orang yang baris di sana. Menganggkat tangannya dan menengadahkan kepala sambil menggumamkan lagu Indonesia raya di mulutnya.

Saya terharu karena kapan lagi saya bisa melihat hampir semua orang di negara ini melakukannya dalam waktu bersamaan. Saya selalu terharu melihat pasukan paskibraka mengayunkan langkahnya beriringan dan saat itu semua mata tertuju pada mereka. Betapa bangga orang tua mereka melihat anaknya berada di sana, berpartisipasi langsung dalam hajat besar negaranya.
Beberapa bilang, ini hanya sebuah nasionalisme musiman, berkata tanpa bertindak lah.. berteriak merdeka tanpa tahu artinya lah.. macam-macam pendapat keluar.
Ah, semua orang bebas berpendapat. Karena memang keadaan yang membuat seperti itu. Dan mungkin keadaan juga yang membuat nasionalisme ini menjadi musiman. Kita atau bahkan pemerintah mampu mendongkrak nasionalisme masih sebatas 17 Agustus 1945, dan sebatas kerasnya suara memprotes negara lain saat mencuri kebudayaan kita. Disaat yang lain, semua orang akan berkutat dengan kesibukannya untuk bertahan hidup di jaman serba susah ini. Manusiawi. Ya karena memang keadaan.
Entahlan, itu yang saya pikirkan. Kalian? Mungkin akan berbeda lagi.

Selamat ulang tahun negeriku yang ke 67 tahun. Harapan saya pribadi, semoga rasa haru yang saya rasakan hari ini bisa lebih sering saya rasakan di hari-hari lain.
MERDEKA! Merdeka dari belenggu yang mengikat hati masing-masing dulu sebelum merdeka yang lain. Terutama buat yang baru saja putus cinta tapi belum bisa move on :D -ini apa coba-
MERDEKA!
Share:

16 August 2012

Gombalan Masa Kecil

Pagi tadi tiba-tiba saya tertarik untuk bongkar tumpukan buku-buku lama di lemari.
Selama saya merantau kuliah di luar kota, lemari baju di kamar kelihatan berantakan. Di bagian paling bawah tertumpuk buku-buku yang sudah nggak terpakai tapi sengaja saya simpan karena dulu berfikir suatu saat pengen buka-buka lagi.
Ada catetan bhs.inggris yang dari kecil saya pelajari tapi tetep nggak pinter-pinter, dan ada koran pengumuman hasil SPMB atau sekarang namanya udah berubah jadi SNMPTN. Saya senyum-senyum sendiri pas megang dan buka-buka. Seperti memutar kenangan.
Saya bongkar lebih banyak lagi.
Ada buku diary jaman masih sekolah.
Dan yang paling menarik, saya nemu sebuah buku tulis tempat saya dulu nulisin coretan-coretan ber"rima".
Halaman demi halamannya saya buka. Masih senyum-senyum sendiri. Buku bersampul mika hijau itu saya beli dalam keadaan kosong ketika masih SMP, saat itu tahun 2003, 9 tahun yang lalu. Setelah itu sedikit-demi sedikit setiap lagi bengong atau kurang kerjaan, saya menulisinya dengan bait-bait ber"rima". Kata teman-teman itu puisi. Tapi bagi saya itu imajinasi.
Bukan, bukan imajinasi saya dulu nyebutnya. Saya belum setua itu Dulu bagi saya itu hanya sebuah tulisan gombal. Hasil dari teracuninya otak saya dengan karya-karya Kahlil Gibran yang sedang booming-boomingnya saat itu.
Semakin dibuka, senyum bibir ini semakin melebar. Pantesan sekarang kalau disuruh gombal di twitter lancar banget, ternyata pas jaman SMP gombalnya juga udah lancar.
Saya memang ingat pas masa SMP-SMA suka nulis coretan-coretan berima, tapi saya hampir melupakan detail isinya. Alhasil, terheran-herannya sedikit berlebihan mungkin.
Beberapa bagian yang bikin geli sempet saya twitpic tadi.
Dan ini. Ketampar banget rasanya. Selama ini saya ikut teriak kenceng menyuarakan anti ke'alay'an. Tapi ternyata saya juga pernah alay :D >> "ARIEZ GIRL '03"

 

Dan lagi ini yang sempet bikin terheran-heran. Jaman SMP-SMA, sekitar tahun 2003-2004 tahu dari mana bisa nulis kata GALAU segala, jauh 9 tahun yang lalu sebelum kata ini meledak dikalangan ABG :D >>


Beneran heran, kenapa saya bisa dewasa sebelum waktunya gitu, bisa nulis-nulis..ah itu tulisan apa? siapa yang ngajarin...? saya ini anak siapaa...??

Haha..

Ternyata benar, setiap orang pasti akan merindukan rumahnya. Sejauh apapun dia pergi.
Saya pernah bertekad untuk hidup lebih realistis, ngejauh dari kata-kata puitis. Tapi nyatanya, di saat-saat tertentu secara nggak sadar saya merindukannya, semua keluar begitu saja dari pikiran bahkan mulut. Suatu ketika, saya terpancing oleh para penulis yang suka menuliskan ide-idenya di twitter, bermain kata, bermain rima. Akhirnya secara tidak sadar saya pulang, pulang kepada kecintaan saya pada kata dan rima.
Saya pulang..
Atau sebut saja, saya kumat :)
Share: